tempoinstitute.com
Dulu ketika
masih duduk di bangku SMP, saya
pernah mengutarakan perihal cita-cita saya yang ingin menjadi seorang jurnalis. Sebelumnya saya sudah
mempersiapkan berbagai macam alasannya. Salah satunya adalah ingin menegakkan
kebenaran dengan memberikan informasi-informasi yang sesuai dengan kejadian di lapangan yang nyata adanya
bukan berita hoaxs maksudnya. Meskipun pada kenyataannya keinginan untuk
menjadi jurnalis hanya sebatas keinginan saja; tidak beralasan dan cuma sebatas keren-kerenan
saja. Sayang sekali, Ibu melarang saya untuk menjadi jurnalis pada
waktu itu. Dan bahkan sampai saat inipun, Ibu sepertinya masih belum memberikan
lampu hijau untuk itu, meskipun selama tujuh tahun ini saya banyak aktif di
dunia jurnalistik; mulai dari menjadi jurnalis sekolah, jurnalis kampus, bahkan
jurnalis pesantren. Dan saya menjulukinya dengan sebutan jurnalis
pengabdian, karena tidak berbayar, hanya sebatas mengabdi kepada lembaga pendidikan. Jurnalis berbayar kerap penuh dengan berbagai ancaman dan taruhan,
yang selama ini menjadi titik kekhawatiran
Ibu saya. Beberapa alasan yang sering kali diutarakan Ibu kenapa melarang
saya menjadi jurnalis
#1 Takut Mati tragis
Ibu sangat takut kalau saya menjadi jurnalis saya akan mati secara tragis, misalnya dengan cara dibunuh. Dan saat ini saya membenarkan alasan Ibu tersebut. Menjadi seorang jurnalis harus bertaruh nyawa untuk menegakkan kebenaran. Sebab, terkadang ada orang yang tidak suka dengan pemberitaan yang tersebar meskipun itu fakta adanya. Sehingga sering kali para jurnalis diteror, diancam, dan dibunuh.
#2 Jadi bahan pelecehan seksual
Menjadi jurnalis banyak tantangan dan
ritangannya apalagi jurnalis perempuan. Pelecehan seksual kerap kali terjadi
pada jurnalis perempuan. Kenapa? Karena perempuan selalu dipandang lemah
sehingga laki laki selalu berkuasa untuk menindasnya. Jika perempuan bisa bekerja yang ringan-ringan
kenapa harus memilih pekerjaan yang berat.
#3 Akan lebih sering memburu Banyak Orang
Suatu hari, Ibu saya pernah melihat seorang wartawan yang sedang mengejar-ngejar orang-orang yang bersangkutan (informan) untuk diwawancarai.
Dan Ibu saya selalu takut dan cenderung was-was anaknya akan melakukan hal yang sama. Katanya, hal seperti itu sangat miris; layaknya orang yang tidak mempunyai
pekerjaan saja, padahal memang ya seperti itu pekerjaannya. Ibu saya takut, saya akan bernasib sama; mengejar-ngejar
orang yang tidak kenal demi sebuah informasi.
#4 Tidak bisa membela kasus keluarganya
Dulu, ada salah satu tetangga saya yang
terlibat dalam kasus pembunuhan. Salah satu keluarganya itu ada yang berprofesi
menjadi seorang jurnalis. Mirisnya, tetangga saya itu memang terbukti bersalah. Dan si jurnalis tersebut tentu tidak bisa membela keluarganya itu. Sebab, misi seorang jurnalis menegakkan
kebenaran tanpa harus pandang bulu entah itu keluarga, teman, dan sebagainya. Ibu saya khawatir kalau saya jadi jurnalis saya tidak bisa membantu dan
membela keluarga saya ketika mereka membutuhkan saya.
# 5 Takut tidak bisa tampil cantik
Perempuan selalu saja identik dengan selalu
bisa merawat dirinya (tubuh) agar tampil cantik dan menarik. Namun, ketika
menjadi jurnalis Ibu takut saya tidak mempunyai banyak waktu untuk merawat
diri dengan baik. Takut saya jarang mandi, jarang dandan, takut tidak bisa
berpenampilan perfect dan sebaginya. Dan ketika dipikir-pikir memang ada
benarnya, karena sibuk ngurusin pemberitaan orang sampai lupa dengan ngurusin
diri sendiri.

0 Komentar