5 Alasan Kenapa Ibu Melarang Saya Menjadi Jurnalis

 

                                                                                                                  tempoinstitute.com


Dulu ketika  masih duduk di bangku SMP,  saya pernah mengutarakan perihal cita-cita saya yang ingin menjadi  seorang jurnalis. Sebelumnya saya sudah mempersiapkan berbagai macam alasannya. Salah satunya adalah ingin menegakkan kebenaran dengan memberikan informasi-informasi yang sesuai dengan  kejadian di lapangan yang  nyata adanya  bukan berita hoaxs maksudnya. Meskipun pada kenyataannya keinginan untuk menjadi jurnalis hanya sebatas keinginan saja; tidak beralasan dan cuma sebatas keren-kerenan saja. Sayang sekali, Ibu melarang saya untuk menjadi jurnalis pada waktu itu. Dan bahkan sampai saat inipun, Ibu sepertinya masih belum memberikan lampu hijau untuk itu, meskipun selama tujuh tahun ini saya banyak aktif di dunia jurnalistik; mulai dari menjadi jurnalis sekolah, jurnalis kampus, bahkan jurnalis pesantren. Dan saya menjulukinya dengan sebutan jurnalis pengabdian, karena tidak berbayar, hanya sebatas mengabdi kepada lembaga pendidikan. Jurnalis berbayar kerap penuh dengan berbagai ancaman dan taruhan, yang selama ini menjadi titik kekhawatiran  Ibu saya. Beberapa alasan yang sering kali diutarakan Ibu kenapa melarang saya menjadi jurnalis

#1 Takut Mati tragis

Ibu sangat takut kalau saya menjadi jurnalis saya akan mati secara tragis, misalnya dengan cara dibunuh. Dan saat ini saya membenarkan alasan Ibu tersebut. Menjadi seorang jurnalis harus  bertaruh nyawa untuk menegakkan kebenaran. Sebab, terkadang ada orang yang tidak suka dengan pemberitaan yang tersebar meskipun itu fakta adanya. Sehingga sering kali para jurnalis diteror, diancam, dan dibunuh.

#2 Jadi bahan pelecehan seksual

Menjadi jurnalis banyak tantangan dan ritangannya apalagi jurnalis perempuan. Pelecehan seksual kerap kali terjadi pada jurnalis perempuan. Kenapa? Karena perempuan selalu dipandang lemah sehingga laki laki selalu berkuasa untuk menindasnya. Jika perempuan bisa bekerja yang ringan-ringan kenapa harus memilih pekerjaan yang berat.

#3 Akan lebih sering memburu Banyak Orang

Suatu hari, Ibu saya pernah melihat seorang wartawan yang sedang mengejar-ngejar orang-orang yang bersangkutan (informan) untuk diwawancarai. Dan Ibu saya selalu takut dan cenderung was-was anaknya akan melakukan hal yang sama. Katanya, hal seperti itu sangat miris; layaknya orang yang tidak mempunyai pekerjaan saja, padahal memang ya seperti itu pekerjaannya. Ibu saya takut, saya akan bernasib sama; mengejar-ngejar orang yang tidak kenal demi sebuah informasi.

#4 Tidak bisa membela kasus keluarganya

Dulu, ada salah satu tetangga saya yang terlibat dalam kasus pembunuhan. Salah satu keluarganya itu ada yang berprofesi menjadi seorang  jurnalis. Mirisnya, tetangga saya itu memang terbukti bersalah. Dan si jurnalis tersebut tentu tidak bisa membela keluarganya itu. Sebab, misi seorang jurnalis menegakkan kebenaran tanpa harus pandang bulu entah itu keluarga, teman, dan sebagainya. Ibu saya khawatir kalau saya jadi jurnalis saya tidak bisa membantu dan membela keluarga saya ketika mereka membutuhkan saya.

# 5 Takut tidak bisa tampil cantik

Perempuan selalu saja identik dengan selalu bisa merawat dirinya (tubuh) agar tampil cantik dan menarik. Namun, ketika menjadi jurnalis Ibu takut saya tidak mempunyai banyak waktu untuk merawat diri dengan baik. Takut saya jarang mandi, jarang dandan, takut tidak bisa berpenampilan perfect dan sebaginya. Dan ketika dipikir-pikir memang ada benarnya, karena sibuk ngurusin pemberitaan orang sampai lupa dengan ngurusin diri sendiri.


Posting Komentar

0 Komentar