Surat untuk Perempuan 2

                                                                                    pinterest.com

Kisah Siti Nur Baya hanyalah sebatas cerita yang tidak akan ada seorangpun menjelma dia kedua. Namun, nasibnya banyak dialami oleh kaum hawa. Nasib tentang ketidak bebasannya memilih lelaki yang dia pilih ataupun menolak lelaki yang memilihnya. 

Memilih untuk tidak bernasib sama dengannya rupanya bukanlah nasib yang baik. Mulai dari terpecahnya dua keluarga sampai diomongin tetangga bahkan rela mati rasa untuk bercinta demi menjaga martabat keluarga adalah resiko memilih tidak menjadi Nur Baya kedua. Ini bukan perihal pilih-pilih tapi setiap manusia berhak dan bebas untuk memilih antara iya atau tidak.

Sebagian orang bertanya kenapa aku gak mau jadi Nur Baya kedua. Jika aku menjawab berdasarkan rasa orang banyak tak percaya karena menikah bukan hanya persoalan cinta. Jika aku menjawab berdasarkan logika orang banyak tak mengerti karena seharusnya seorang anak harus patuh kepada orang tua. Jangan bertanya alasan karena tak semua hal di dunia ini memiliki alasan dan tidak semua alasan harus diungkapkan.

Bukannya orang banyak bilang cinta itu tak beralasan. Jika cinta tak beralasan apakah tidak cinta juga harus ada alasannya. Aku juga teringat perkataan Boy Candra bahwasanya anakmu itu bukanlah anakmu, dia memiliki mimpi di masanya dan kamu memiliki mimpi di masamu, jangan suruh dia bermimpi di masamu, tapi biarkan dia jadi anak panah yang kau lepaskan dari busur. 

Sosok Nur Baya tidak patut diteladani seperti Kartini. Kisahnya hanya perlu kita telaah hari ini karena sejatinya dia tidak mau perempuan yang hidup setelahnya akan memiliki kisah yang sama. Dia tidak ingin membentuk generasi Nur Baya kedua ataupun ketiga. Cukup dia yang memilih pasrah pada keadaan. 

Aku dan kalian memiliki kebebasan untuk memilih tidak menjadi generasi Siti Nur Baya.

Terima Kasih 




 

Posting Komentar

0 Komentar