Surat untuk Perempuan

                                                                                   pinterest.com

Surat ini ditulis oleh seorang perempuan dan teruntuk para perempuan.

Perkenalkan, aku adalah seorang perempuan. Perempuan tidak berdaya yang ingin menuntut banyak kebebasan. Kebebasan berpikir, kebebasan berkarya, bahkan kebebasan memilih.

Suatu hari, aku pernah bermimpi terjebak dalam zamannya Situ Nur Baya. Dua hari setelahnya, aku baru bangun dan berharap mimpiku tidak akan pernah terjadi dalam dunia nyata, berharap tidak akan ada Siti Nur Baya kedua di dunia ini.

Sepertinya aku tidak sedang bermimpi dalam tidur pulasku selama tiga hari itu, karena aku memang tidak benar-benar tidur dan memang sudah terbangun. Lalu, ku bangunkan lagi akal pikiranku yang serba dongeng dan fantasi itu dari dalam mimpinya.

Sungguh ini nyata, dan realitanya aku memang benar-benar terjebak dalam kisahnya Nur Baya. Lalu, aku cari jalan keluar dengan menghalalkan berbagai cara agar tak menjadi dia yang kedua. Cukup dia (Nur Baya) yang hidup tidak bahagia dengan Datuk Maringgi demi menebus sebuah hutang, cukup Hayati yang dilanda penyesalan tak berkesudahan lantaran meninggalkan Zainuddin demi menghormati adat, cukup ibuku yang memilih pasrah dan tabah ketika dihadapkan dengan budaya perjodohan yang begitu menyakitkan, cukup temanku yang tidak merasakan indahnya hidup bersama orang yang dicintainya, cukup mereka.

Aku dan kalian berhak  memilih untuk sekadar memilih untuk tidak memilih orang yang memilihnya.

Terima Kasih.

Posting Komentar

2 Komentar