Tulisan ini bukan tentang bagaimana cara Mark Marson membuka pikiran kita bahwa ada beberapa hal penting yang tidak perlu dipersoalkan dalam hidup dan membantu kita untuk lebih cuek terhadap hal-hal yang kurang penting melalui bukunya yang legendaris Butuh Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Atau tentang bagaimana Habib Husein Ja'far Al-Hadar menawarkan perspektif seni dalam arti yang luas kepada kita untuk memahami berbagai fenomena keberagaman kontemporer, mulai dari kesalehan ritual, sosial, hingga digital dalam buku Seni Merayu Tuhan. Bukan juga tentang bagaimana Agus Mulyadi memaklumi kekonyolan kekasihnya, Kalis Mardiasih, seorang aktivitis perempuan melalui jalan ninjanya yang ia tuliskan dalam buku berjudul Butuh Seni untuk Memahami Kekasih.
Saya menulis ini bukan tentang bagaimana cara saya mendidik anak dengan baik tanpa mengganggu psikologisnya karena sejatinya saya belum punya anak dan belum merasakan susahnya mengandung, sakitnya melahirkan, dan ribetnya menyusui, boro-boro punya anak wong nikah aja masih belum. Selain itu, saya juga bukan pakar psikologi anak yang banyak tahu (menahu) tentang perkembangan seorang anak. Saya hanyalah seorang kakak paling dewasa di rumah, cerminan dari adik dan adik-adik sepupu saya yang kenyataannya masih sering kali memberikan cerminan yang kurang baik kepada mereka seperti bermain gawai tanpa batas waktu.
Dan tulisan ini sebatas tentang bagaimana saya menetralisir perasaan saya sendiri ketika melihat ibu saya yang sering kali kesal terhadap kelakuan adik saya ketika dia bermalas-malasan untuk ngaji Alquran atau ketika mau berangkat sekolah. Atau bagaimana saya menata pikiran ketika adik ibu saya (bibi) yang sering kali marah-marah lantaran adik sepupu yang sering lupa waktu kalau lagi main gawai atau pas lagi main ke rumah temannya. Sampai-sampai cara mereka marah atau cara mereka menimpali kekesalan menimbulkan kesan yang sangat mengganjal dalam pikiran dan terkadang membuat saya déjà vu pada masalalu.
Saya ingat betul kejadian dua tahun silam, bagaimana adik sepupu saya dimarahi habis-habisan oleh ibunya karena dia keasyikan main di rumah temannya sampai lupa pulang. Jauh dari lorong menuju rumah, si ibu sudah ngomel-ngomel sampai-sampai saya yang tertidur pulas di siang bolong itu ikut terbangun. "Mama sudah bilang kan tadi sebelum berangkat main, kalau Kiai Mahfuz sudah azan zuhur di masjid harus pulang. Tapi kenapa gak pulang-pulang sampai jam satu siang gini?", begitu kira-kira ucapannya si ibu. Adik sepupu saya karena memang merasa bersalah, dia hanya diam sambil membendung air matanya agar tidak menangis. Saya sebagai kakak merasa iba melihat dia dimarahi habis-habisan oleh ibunya. Ketika kemarahan si ibu mulai reda, kemudian si bapak bertanya kepada adik sepupu saya itu, "tadi mama kan sudah bilang, kalau udah zuhur harus pulang, tapi kenapa kamu tidak menepati janji untuk pulang tepat waktu?". Dengan merasa bersalah adik sepupu saya menjawab pertanyaan si bapak, "dari tadi aku tidak mendengar Kiai Mahfuz azan". Lalu si bapak menimpali, "lantas, kenapa tidak melihat jam? kalau sudah pukul 12.00 WIB itu harus pulang nak, waktunya istirahat". Saya kaget mendengar jawaban adik sepupu saya setelah itu "aku tidak tahu jam 12.00 WIB itu kapan bapak, kalau aku tahu toh aku pasti sudah pulang dari tadi". Setelah itu si bapak menjelaskan panjang lebar perihal waktu (jam), maklum lah adik sepupu saya pas waktu itu masih TK yang tidak tahu perihal jam dan saya kembali lagi ke kamar.
Ibu saya juga pernah kesal setengah mati lantaran adik saya tengah nangis di halaman rumah karena tidak mau berangkat sekolah. Setengah jam menunggu adik saya yang lagi nangis histeris justru membuat kekesalan ibu saya semakin memuncak sehingga ia menarik-narik lengan adik saya dengan kesal. "Ayo ke sekolah, kalau gak mau sekolah jangan manggil-manggil ibu lagi, ibu malas ngeladenin anak sepertimu". Lalu tiba-tiba adik saya meminta air minum ke ibu dan minta didoain supaya cepat hafal. Ibu saya kaget dan ternyata adik saya tidak mau berangkat sekolah lantaran tidak hafal 12 kosa kata bahasa arab pas hari itu, sementara yang dia hafal cuma 6 kosa kata. Kemudian ibu membangunkan dia dan menyalakan sepeda motor "ayo berangkat, nanti ibu bilangin ke pak Hosnan kalau kamu cuma hafal 6 kosa kata". Baru setelah itu dia mau berangkat sekolah.
Tidak hanya itu saja, bahkan sebelum itu adik saya sering kali tantrum di rumah ataupun di tempat-tempat ramai. Pernah suatu hari dia tantrum lagi lantaran sepedanya belum diperbaiki oleh bapak saya. Dia menangis histeris dan teriak-teriak sambil bilang kalau bapak saya tuli "kamu tidak mendengar ya pak, padahal aku sudah bilang dari kemarin supaya sepedaku kau perbaiki". Maklum pas waktu itu bapak lagi sibuk di rumah dan cenderung tidak punya banyak waktu untuk memperbaikinya sehingga omelan-omelannya cenderung bapak abaikan. Justru ocehan-ocehannya dia membuat saya marah karena dirasa kurang sopan pada bapak. Dan itu memutar daya ingat saya pada masalalu, masa di mana saya juga sering kali melontarkan perkataan yang kurang sopan pada orang tua. Saya tidak mau adik saya menjadi orang yang membangkang seperti saya.
Semalam hal demikian juga terjadi lagi, setelah Isya adik dan adik sepupu saya biasa belajar dengan teman-temannya di rumah. Tiba-tiba adik sepupu saya lagi dan lagi dimarahi habis-habisan oleh ibunya sebab pas jam belajar dia enak-enaknya menggambar padahal besok ada hafalan surat pendek di sekolahnya sementara dia hafalannya masih belum lancar. Saya berpikir, masa anak-anak itu memang masanya mereka bermain karena yang ada dipikirannya cuma bersenang-senang. Mungkin adik sepupu saya menggambar karena dia hobi menggambar atau mungkin karena dia sedang ingin menggambar. Dan ketika menggambar, dia menemukan kesenangan dari hasil ciptanya dan itu tidak selamanya salah bahkan justru akan menjadi bakat dia. Namun di sisi lain, bibi saya memarahinya juga ada benarnya supaya dia lebih fokus belajar. Hanya saja, mungkin tidak harus memarahinya dengan membanding-bandingkan eksistensi dan urgensi antara menggambar dan menghafal.
Dan sore tadi, adik dan adik sepupu saya, keduanya juga dimarahi habis-habisan oleh bibi dan ibu saya karena mengajak teman-temannya yang biasa belajar di sini supaya berangkat lebih awal agar bisa main bareng. Dan hal tersebut dianggap kesalahan yang fatal lantaran ngajak anak tetangga bermain bukan belajar bahkan kalau besok-besoknya lagi masih diulangi lagi adik sepupu saya diancam akan dimondokkan. Adik sepupu saya yang lebih dewasa dari adik saya, dia terlihat tampak muram dan merasa bersalah sementara adik saya hanya cengengesan saja seolah-olah tidak melakukan kesalahan apa-apa. Kejadian tersebut sontak membuat saya déjà vu pada masalalu, bagaimana dulu kakek saya sering marah-marah kalau ada teman-teman main ke rumah karena berisik dan merasa terganggu sehingga membuat saya tidak mau lagi mengajak teman-teman main ke rumah setelah itu. Bahkan saya sering kali membuat banyak alasan agar teman-teman saya gak jadi main ke rumah. Dan kejadian traumatis itu bisa sembuh dari pikiran saya setelah saya kuliah. Saya tidak bisa membayangkan jika mereka juga akan mengalami hal sedemikian rupa; merasa kurang nyaman kalau ada temannya yang main ke rumah.
Susah dapat izin dari ibu untuk sekadar main ke rumah tetangga dan bahkan sampai dijemput ke rumah teman kalau mainnya lupa waktu juga sering dialami oleh adik dan adik-adik sepupu saya. Bahkan tidak jarang mereka juga dibanding-bandingkan dengan anak tetangga yang lain layaknya saya dahulu. Sikap orang tua yang seperti itu sangat baik untuk mengajari anaknya disiplin waktu dan mengantisipasi anak-anaknya supaya tidak salah pergaulan.Tapi bagi saya, hal tersebut justru membuat saya introvert dan susah bergaul dengan sesama. Saya jadi perundung dan pemalu bahkan saya sering kali kurang percaya diri kalau lagi bertatap muka atau bercakap-cakap dengan teman baru. Bahkan saya selalu merasa takut kalau ke mana-mana harus sendirian. Dan saya berharap hal itu tidak terjadi pada mereka.
Tidak hanya saya, bahkan teman kecil saya yang sering kali dikekang untuk belajar dan dilarang bermain bersama teman-temannya yang lain karena takut nakal juga mengalami hal sama seperti saya; cenderung introvert dan pemalu. Kepandaiannya mungkin saya ajungkan jempol karena sering kali jadi ranking 1 di kelas, tapi dari segi sosialnya sangat disayangkan sekali. Cerdas itu tidak hanya sebatas akademik loh. Cerdas itu tentang banyak hal, bisa dari segi spiritual, emosional, dan intelektual yang sering kali terlihat di mata banyak orang.
Bahkan saya sering kali mempertanyakan perihal ini pada diri saya sendiri, kenapa perempuan cenderung perasa sehingga selalu takut anaknya kenapa-napa?. Kenapa seorang laki-laki sering mengandalkan logika ketika melihat anak-anaknya diomelin habis-habisan cuma bisa diam saja dan berpikir 'ya, begitulah sikap perempuan bisa dimaklumi kok'?. Dan kenapa seorang anak cenderung sering tidak mempunyai kesempatan untuk menjelaskan tentang alasan-alasan dari tindakannya?. Hanya sebatas ini tulisan saya.
Thank You :)

0 Komentar