Petani yang Tak Lagi Dicita-citakan


                                                                      Media.Ceria

Tulisan ini bukan tentang kisah gadis 14 tahun bernama Shopie Amundsend yang sering kali mendapat surat filosofis dari seseorang yang minsterius. Siapakah kamu?, isi surat pertama kali yang diterimanya sehingga dia mencari tahu jawaban tentang dirinya sendiri. Sebagaimana Shopie, dari ini saya akan mencari jawaban tentang diri saya sendiri secara realistis namun tak filososfis.

Siapakah Saya?. Saya bukan penulis karena tidak produktif, bukan jurnalis karena tidak bisa berpikir apatis apalagi kritis, bukan pula organisatoris karena sejatinya saya bukan aktivis. Saya adalah saya , yang entah saya menyebutkannya sebagai apa. Yang saya tahu, saya adalah perempuan yang terlahir dari keluarga seorang petani. Ungkapan yang mungkin sangat memalukan bagi sebagian orang, tak terkecuali kamu. Bagi saya, untuk mengungkapkannya butuh berpikir panjang lebar serta kepercayaan diri yang tinggi. Eits, seperti rumus aritmatika bangun ruang saja yang untuk menemukan volumenya harus menggunakan rumus panjang kali lebar kali tinggi (V=pxlxt). Dan saya tidak ingin menjelaskan rumus matematika tersebut karena saya bukan pakarnya, saya hanya ingin mengungkapkan identitas diri saya yang sebenarnya tidak penting untuk diberitahukan. Jadi, jika mentalmu masih belum cukup baik untuk mengungkapkan kebenaran bahwa kamu anak dari seorang petani, saya sarankan untuk dipending dulu sampai kamu tuntas membaca tulisan ini. heu heu heu

Sejak saya lulus sekolah menengah pertama  kemudian melanjutkan sekolah menengah atas di pondok pesantren sampai saya kuliah, saya sudah mulai tidak banyak tahu tentang keadaan para petani dan sawah-sawahnya. Sekalipun pulang ke rumah, saya sudah jarang ke luar rumah sekalipun hanya untuk sekadar silaturahmi ke tetangga atau hanya sekadar jalan-jalan sekiling kampung dan hampir menghabiskan liburan di dalam rumah dengan gadget; mantengin konten kehidupan pribadi selebritis, selebgram, dan youtuber, membaca kutipan-kutipan quotes-quotes di media sosial, melototin  gaya foto kekinian teman yang nampak estetik dan apik melebihi para model iklan yang cantik. Uring-uringan di kasur sambil geser-geser layar merupakan aktivitas yang tidak bisa ditinggalkan padahal masih banyak sesuatu yang perlu diperhatikan di sekitar saya, salah satunya sawah-sawah pak tani yang tak lagi banyak panen dengan melimpah ruah.

Apa kabar pak tani? masihkah kau bagun di pagi buta dari tidur pulasmu lalu mengambil cangkul dan topi jerami untuk melaksanakan kewajiban besarmu?, saya rasa masih begitu. Bagimana hasil panen tembakaumu tahun ini?, saya harap masih berlimpah ruah dengan keuntungan besar melebihi gaji para pegawai negeri sipil.

Suatu hari, saya pernah pulang kampung pada musim tembakau. Di tengah-tengah perjalanan menuju rumah, paman saya bercerita bahwa dulu ketika musim tembakau tiba setiap sawah di daerah itu akan dipenuhi dengan tanaman tembakau. Lihatlah, hari ini tak terlihat banyak tanaman tembakau dan banyak sawah yang sudah tidak terkelola dan tidak ditanami apa-apa. Alasan yang paling utama selain karena takut mengalami kerugian besar, karena manusianya sudah mulai tua renta, sudah tidak banyak tenaga untuk mengurusi dan mengelola lahannya yang terlampau banyak apalagi cenderung jauh dari rumah mereka. Sementara yang muda sudah sibuk dengan profesi mereka yang lain, sibuk mengejar profesi sebagai pegawai negeri sipil, sibuk dengan bisnis-bisnis mereka yang cenderung bisa menghasilkan uang banyak melebihi hasil panen tembakau yang terkadang rugi besar. Dan lucunya, paman saya salah seorang dari pejuang negeri sipil itu sendiri. 

Prediksi saya ternyata salah, keadaan para petani dan sawah-sawahnya cenderung tidak baik-baik saja. Sementara kaum muda pada lari terbirit-birit mengejar cita-cita mereka yang terlampau jauh. Mereka cenderung memilih profesi yang mampu membawa nasib mereka menjadi lebih baik, sedangkan sawahnya tidak terkelola dengan baik. Padahal, menjadi petani bukan sebuah nasib buruk. Dan yang membuat saya mengelus-ngelus dada justru orang tua kita yang tidak ingin anaknya menjadi seorang petani karena dianggap tidak sukses. 

Kiai saya pernah berdawuh, andai beliau diberi pilihan, beliau tak ingin dicalonkan sebagai seorang pejabat, beliau lebih memilih untuk menjadi seorang petani. Sebab, petani bisa makan hasil keringat dan jerih payahnya sendiri, sementara pejabat akan banyak kemungkinan untuk hidup dengan  uang rakyatnya. 

Adakah di antara kalian yang ingin memperbaiki nasib para petanai? Jika ada, mereka akan menaruh banyak harapan padamu  untuk mengelola sawah-sawahnya sehingga menghasilkan panen yang melimpah ruah. Jikapun tak ada, setidaknya kamu bisa menjaganya dari investor-investor asing yang ingin membeli lahan kita dan menguasai bumi kita.

Tulisan ini hanya berdasarkan pandangan saya. Siapapun boleh berkritik atau menambahkan tulisan ini.

Posting Komentar

0 Komentar